Kehilangannya, Tapi Melepaskannya

Tentang Rasa Memiliki dan Keberanian untuk Rela

“Bagian yang paling menyakitkan sebenarnya bukan saat kita kehilangan,

tetapi saat kita terus berharap semuanya kembali seperti dulu.”

Kehilangan adalah pengalaman yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan. Sepanjang hidup, setiap orang akan menghadapi berbagai bentuk kehilangan. Entah itu kehilangan orang yang dicintai, hubungan yang berakhir, kehilangan pekerjaan, kesempatan yang terlewat, atau mimpi yang tidak pernah terwujud. Meski demikian, kehilangan adalah bagian dari hidup manusia. Namun mengapa ada kehilangan yang terasa begitu sulit dilepaskan? Mengapa waktu berlalu, tetapi rasa sakitnya tetap tinggal?

Banyak orang mengira bahwa sumber penderitaan adalah kehilangan itu sendiri. Padahal bisa jadi rasa sakit atau penderitaan yang terus bertahan justru karena perjuangan kita untuk melawan kenyataan yang terjadi.

“Ini seharusnya tidak terjadi.”

“Andai saja semuanya bisa kembali seperti dulu.”

“Aku belum siap kehilangan dia.”

Keinginan untuk mempertahankan sesuatu yang sebenarnya telah berakhir membuat proses berduka menjadi jauh lebih berat. Dalam pendekatan Acceptance and Commitment Therapy (ACT), rasa sakit adalah bagian alami dari kehidupan, tetapi penderitaan berkepanjangan sering muncul ketika kita terus menolak pengalaman yang tidak bisa kita ubah (Hayes, Strosahl & Wilson, 2012). Dengan kata lain, luka tidak selalu berasal dari apa yang hilang, tetapi dari apa yang terus kita paksa untuk tetap tinggal.

Mengapa Melepaskan Terasa Sangat Menyakitkan?

Manusia sejak lahir memiliki kebutuhan untuk membangun attachment atau keterikatan dengan orang lain. Attachment memberikan berbagai kebutuhan psikologis yang mendasar, seperti rasa aman, rasa diterima, rasa dicintai dan rasa memiliki. Ketika seseorang menjadi sumber kenyamanan, dukungan, validasi, dan rasa aman, otak perlahan mulai menganggap kehadirannya sebagai kebutuhan dan ketika hubungan berakhir, otak menganggapnya sebagai ancaman. Fisher, H. E., Brown, L. L., Aron, A., Strong, G., & Mashek, D. (2010) menemukan bahwa area otak yang aktif saat patah hati serupa dengan area otak yang aktif pada kecanduan. Artinya, kita bukan hanya kehilangan seseorang. Kita sedang kehilangan sumber kenyamanan yang selama ini membantu mengatur emosi kita.

Sebenarnya Apa yang Hilang?

Betul bahwa kita sedang kehilangan seseorang, tapi yang juga seringkali kita ratapi sehingga terasa semakin berat, yaitu:

  • masa depan yang pernah kita bayangkan,
  • harapan yang sudah dibangun,
  • identitas yang selama ini melekat pada hubungan itu,
  • rutinitas yang memberikan rasa aman,
  • versi diri yang pernah hidup bersama orang tersebut.

Berduka Bukan Sekadar Menunggu Waktu

Menurut William Worden (2018) berduka bukan hanya proses yang terjadi begitu saja, melainkan serangkaian tugas psikologis yang perlu dijalani.

Empat tugas tersebut adalah:

  1. Menerima realitas kehilangan.
  2. Memproses rasa sakit akibat kehilangan.
  3. Menyesuaikan diri dengan kehidupan tanpa orang atau hal yang hilang.
  4. Menemukan cara mempertahankan hubungan emosional yang sehat dengan yang hilang sambil tetap melanjutkan hidup.

Artinya, tujuan berduka bukan melupakan, melainkan belajar hidup berdampingan dengan kehilangan.

Mengapa Sulit Merelakan?

Rasa sakit merupakan bagian alami dari kehidupan. Namun ketika rasa sakit tersebut terus dilawan dengan penolakan, penyesalan, atau keinginan agar kenyataan berubah, penderitaan justru menjadi semakin besar. Menerima kenyataan bukan berarti menyukai apa yang terjadi, melainkan berhenti menghabiskan energi untuk melawan sesuatu yang memang sudah tidak dapat diubah. Pikiran-pikiran seperti “Seandainya aku…”, “Aku gagal mempertahankan hubungan ini.”, “Semua ini salahku.” Biasanya yang akan semakin memperpanjang penderitaan karena membuat seseorang bukan hanya kehilangan, tetapi juga mengutuk dirinya sendiri. Merelakan sering disalahartikan sebagai berhenti mencintai. Padahal, merelakan bukan berarti tidak sedih, tidak kecewa, tidak terluka atau menghapus semua kenangan. Merelakan berarti menerima bahwa sesuatu telah terjadi meskipun bukan hal yang kita inginkan, lalu memilih untuk tetap melanjutkan kehidupan.

Berdamai dengan Kehilangan

Kita tidak bisa menghapus atau melupakan memori yang telah ada dalam hidup, namun kita bisa belajar berdamai. Berdamai berarti berhenti melawan kenyataan dan mulai memberi ruang bagi kehidupan untuk kembali bertumbuh. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Akui bahwa kehilangan itu memang menyakitkan.
  2. Berikan izin kepada diri sendiri untuk berduka tanpa membandingkan proses dengan orang lain.
  3. Terima kenyataan bahwa masa lalu tidak dapat diubah.
  4. Lepaskan keinginan untuk mengendalikan hal-hal yang berada di luar kendali.
  5. Bangun makna baru dengan bertanya, “Apa yang dapat kupelajari dari pengalaman ini?”

Ingat bahwa melepaskan bukan berarti menghilangkan cinta, melainkan keberanian untuk tetap mencintai kehidupan, meskipun tidak lagi berjalan bersama orang atau hal yang pernah kita harapkan.

Artikel Ini disusun berdasarkan webinar Selaras Bertumbuh berjudul “Yang Sulit Bukan Kehilangannya Tapi Melepaskannya” yang dibawakan oleh Vanika Oktia, M.Si, M.Psi, Psikolog

SUMBER REFERENSI

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.). American Psychiatric Publishing.

Bowlby, J. (1969). Attachment and loss: Vol. 1. Attachment. Basic Books.

Bowlby, J. (1980). Attachment and loss: Vol. 3. Loss: Sadness and depression. Basic Books.

Fisher, H. E., Brown, L. L., Aron, A., Strong, G., & Mashek, D. (2010). Reward, addiction, and emotion regulation systems associated with rejection in love. Journal of Neurophysiology, 104(1), 51–60. https://doi.org/10.1152/jn.00784.2009

Hayes, S. C., Strosahl, K. D., & Wilson, K. G. (2012). Acceptance and commitment therapy: The process and practice of mindful change (2nd ed.). Guilford Press.

Neff, K. D. (2003). Self-compassion: An alternative conceptualization of a healthy attitude toward oneself. Self and Identity, 2(2), 85–101. https://doi.org/10.1080/15298860309032

Neff, K. D., & Germer, C. K. (2017). Self-compassion and psychological well-being. In J. Doty (Ed.), The Oxford handbook of compassion science (pp. 371–385). Oxford University Press.

Worden, J. W. (2018). Grief counseling and grief therapy: A handbook for the mental health practitioner (5th ed.). Springer.