Survival Mode On: Hidup atau Sekedar Bertahan?

Pernah ngerasain hidup kamu sebenarnya lagi baik-baik saja tapi entah kenapa rasanya tetap lelah? Kamu bisa bekerja, tugas selesai, bisa bertemu orang lain, dan melakukan aktivitas pada umumnya. Seakan terlihat baik-baik saja, tapi di dalam diri tetap merasa berbeda. Merasa mudah lelah, sulit ngerasain istirahat yang puas, merasa kosong dan mungkin hal-hal menyenangkan yang kita lakukan dulu kini terasa biasa saja.
Perlu dipahami bahwa tekanan hidup tidak selalu datang dalam peristiwa yang besar. Stres bisa muncul dari sesuatu yang berlangsung terus menerus tanpa henti. Misalnya pekerjaan yang tidak ada habisnya, tuntutan akademik, masalah keluarga, kondisi finansial, hubungan yang melelahkan, tuntutan sosial dan kebutuhan untuk terlihat baik-baik saja. Ketika hal-hal ini muncul terus menerus tanpa kesempatan pemulihan yang memadai, tubuh dapat memasuki kondisi survival mode.
Apa itu survival mode?

Survival mode merupakan istilah non diagnosis untuk menggambarkan kondisi ketika tubuh dan pikiran bekerja sangat keras untuk membantu kita bertahan menghadapi tekanan hidup, tetapi ketika kondisi ini berlangsung terlalu lama, kita dapat mulai kehilangan rasa tenang, kehilangan koneksi dengan diri sendiri, dan merasa hidup hanya berjalan secara otomatis. Jadi istilah ini bukanlah diagnosis resmi dalam dunia psikologi melainkan sebagai istilah populer untuk menggambarkan pola adaptasi terhadap tekanan yang berlangsung terus menerus.
Tubuh dirancang untuk merespon stres
Salah satu konsep untuk memahami respon stres dalam tubuh dikembangkan oleh Hans Selye, yaitu General Adaptation Syndrome (GAS), menggambarkan tiga tahap respon tubuh saat menghadapi stress:
- Alarm
Tubuh mendeteksi adanya tuntutan atau ancaman dan masuk kondisi siaga. Respon fisiologis berkaitan dengan sistem stres meningkat sehingga tubuh lebih siap menghadapi situasi yang dianggap membutuhkan respon cepat.

- Resistance

Jika tekanan berlanjut, tubuh berusaha adaptasi untuk tetap menjalani fungsi sehari hari. Inilah salah satu alasan mengapa seseorang bisa tetap kerja, belajar dan memenuhi tugas lainnya meski merasa lelah. Kita masih berfungsi namun mempertahankan fungsi tersebut butuh sumber daya, sehingga jika tekanan terus menerus tanpa pemulihan yang cukup kelelahan dapat semakin terakumulasi.
- Exhaustion
Ketika tekanan terus berlangsung berkepanjangan dan sumber daya adaptasi semakin terkuras, tubuh bisa menjadi kehabisan sumber daya hingga berdampak pada gangguan tidur, kesulitan konsentrasi, gelisah, perubahan suasana hati.

Namun perlu dicatat bahwa model Selye merupakan model klasik dalam sejarah penelitian stres, ini hanya dapat membantu memahami apa yang dapat terjadi dalam tubuh saat menghadapi stres, namun tidak selalu berlangsung secara linear seperti ini, bisa jadi individu mengalami respon yang lebih sederhana atau kompleks dari ini.
Ketika Hidup dalam Autopilot
Seseorang bisa tampak produktif, bangun pagi, bekerja, menyelesaikan tugas lalu menjalani hari-harinya seperti biasa. Namun ketika ditanya “Apa yang sebenarnya kamu rasakan?” “Apa yang sebenarnya kamu butuhkan?” mungkin kita akan merasa bingung dan tidak tahu jawabannya. Di titik ini, bisa jadi yang hilang bukan sekedar energi, melainkan keterhubungan dengan diri sendiri.
Konsep self connection dapat menjadi cara menarik untuk memahami pengalaman ini. Klussman, K., Nichols, A. L., Curtin, N., Langer, J., & Orehek, E. (2022) menjelaskan melalui tiga komponen:
- Self-awareness: mampu mengenali dan memahami diri sendiri.
- Self-acceptance: mampu menerima berbagai aspek diri, termasuk pengalaman internal yang tidak selalu menyenangkan.
- Self-alignment: mampu menjalani perilaku yang selaras dengan apa yang diketahui dan diterima mengenai diri sendiri, termasuk nilai, kebutuhan, preferensi, dan tujuan.
Ketika koneksi dengan diri melemah, kita dapat mengalami kesulitan pada ketiga area tersebut. Kita tidak tahu apa yang dirasakan. Kita tahu apa yang dirasakan, tetapi langsung menghakiminya. Kita tahu apa yang dibutuhkan, tetapi terus mengabaikannya. Kita tahu apa yang penting bagi kita, tetapi kehidupan sehari-hari tidak lagi mencerminkan hal tersebut.

Kembali Menemui Diri
Salah satu langkah penting adalah belajar kembali hadir di dalam hidup sendiri. Pendekatan Acceptance and Commitment Therapy (ACT) dapat membantu kita hadir dalam hidup. ACT tidak mengajarkan bahwa kita harus menghilangkan semua pikiran negatif atau perasaan tidak nyaman terlebih dahulu agar dapat menjalani hidup. Sebaliknya, ACT menekankan psychological flexibility, yaitu kemampuan untuk tetap hadir dengan pengalaman yang sedang terjadi dan memilih atau mempertahankan perilaku yang sesuai dengan nilai yang penting bagi kita, bahkan ketika terdapat pikiran atau emosi yang sulit. Kurang lebih, ACT mengajari bahwa “Saya mau menyadari apa yang sedang terjadi di dalam diri saya, menerima bahwa pengalaman itu ada, lalu memilih langkah yang lebih selaras dengan apa yang penting bagi saya.”
Empat Langkah Sederhana
- Pause (Berhenti sejenak)
Berikan jeda dari mode “harus melakukan sesuatu” menjadi berhenti sejenak. Kamu bisa coba tarik napas dan beri diri sendiri kesempatan untuk berhenti sebelum langsung melanjutkan aktivitas berikutnya. Bukan untuk melarikan diri dari kehidupan, tetapi untuk kembali hadir di dalamnya.
- Notice (Perhatikan)
Tanyakan kepada diri sendiri:
“Apa yang sedang saya rasakan?”
“Apa yang sedang terjadi dalam pikiran saya?”
“Apa yang tubuh saya rasakan?”
“Apa yang sebenarnya sedang saya butuhkan?”
Tidak perlu langsung mencari solusi. Untuk sementara, cukup menyadari.
- Accept (Terima)
Menerima bukan berarti pasrah dan menyerah pada keadaan. Dalam perspektif ACT, acceptance berarti memberikan ruang terhadap pengalaman internal yang tidak menyenangkan tanpa terus-menerus berusaha mengontrol atau menghilangkannya, sehingga kita dapat tetap bergerak menuju hal-hal yang bernilai. Kita boleh merasa lelah, kita boleh merasa kecewa, kita boleh merasa tidak tahu, kita tidak harus langsung memperbaiki semuanya.
- Reconnect (Terhubung kembali)
Setelah menyadari dan menerima apa yang sedang terjadi, tanyakan:
“Apa yang sebenarnya penting bagi saya?”
“Orang seperti apa yang ingin saya menjadi?”
“Apa satu tindakan kecil yang bisa saya lakukan hari ini agar hidup saya sedikit lebih selaras dengan hal tersebut?”
Kita tidak hanya mengenali diri, tetapi mulai menjalani kehidupan yang lebih selaras dengan apa yang kita sadari mengenai diri kita. Bukan berhenti hidup, tetapi berhenti hidup secara otomatis. Ada kalanya kita memang perlu bekerja keras. Ada masa ketika kita harus bertahan. Ada situasi ketika menyelesaikan tanggung jawab memang menjadi prioritas. Namun, hidup tidak seharusnya hanya terdiri dari bertahan dari satu hari ke hari berikutnya. Karena manusia bukan hanya membutuhkan kemampuan untuk menghadapi tekanan. Kita juga membutuhkan ruang untuk beristirahat, merasakan, terhubung, memilih, menikmati, dan menemukan makna.
Artikel Ini disusun berdasarkan webinar Selaras Bertumbuh berjudul “Survival Mode On: Hidup atau Sekedar Bertahan?” yang dibawakan oleh Siti Chadijah, M.Psi., Psikolog
SUMBER REFERENSI
Hayes, S. C., Luoma, J. B., Bond, F. W., Masuda, A., & Lillis, J. (2006). Acceptance and commitment therapy: Model, processes and outcomes. Behaviour Research and Therapy, 44(1), 1–25. https://doi.org/10.1016/j.brat.2005.06.006
Hayes, S. C., Strosahl, K. D., & Wilson, K. G. (2012). Acceptance and commitment therapy: The process and practice of mindful change (2nd ed.). Guilford Press.
Klussman, K., Curtin, N., Langer, J., & Nichols, A. L. (2022). The importance of awareness, acceptance, and alignment with the self: A framework for understanding self-connection. Europe’s Journal of Psychology, 18(1), 120–131. https://doi.org/10.5964/ejop.3707
Klussman, K., Nichols, A. L., Curtin, N., Langer, J., & Orehek, E. (2022). Self-connection and well-being: Development and validation of a self-connection scale. European Journal of Social Psychology, 52(1), 18–45. https://doi.org/10.1002/ejsp.2812
Porges, S. W. (2011). The polyvagal theory: Neurophysiological foundations of emotions, attachment, communication, and self-regulation. W. W. Norton & Company.
Selye, H. (1956). The stress of life. McGraw-Hill.
Hsu, T., Adamowicz, J. L., & Thomas, E. B. K. (2023). The effect of acceptance and commitment therapy on the psychological flexibility and inflexibility of undergraduate students: A systematic review and three-level meta-analysis. Journal of Contextual Behavioral Science.
Grossman, P. (2023). Fundamental challenges and likely refutations of the five basic premises of the polyvagal theory. Biological Psychology, 180, 108589. https://doi.org/10.1016/j.biopsycho.2023.108589
