Sehat Mental atau Sehat Finansial?

Di tengah kondisi sosial saat ini rasanya sehat mental dan sehat finansial seringkali menjadi sebuah perdebatan. Ada orang yang memilih tetap bertahan di pekerjaan yang membuatnya stres demi memperoleh penghasilan yang stabil. Sementara ada juga orang yang memutuskan untuk resign demi menjaga kesehatan mental meskipun secara finansial juga belum stabil. Fenomena ini menunjukkan bahwa sehat mental dan sehat finansial sering kali dipandang sebagai konflik yang harus dipilih.

Mengapa Dilema ini dapat terjadi?

Psikolog sosial Kurt Lewin menjelaskan bahwa konflik psikologis dapat muncul dalam kondisi ketika seseorang harus mengambil keputusan atau melakukan suatu perilaku yang pada saat bersamaan memiliki konsekuensi yang menyenangkan sekaligus tidak menyenangkan. Situasi ini disebut dengan approach-avoidance conflict.

Apabila dikaitkan dengan fenomena sehat mental dan sehat finansial, konflik ini dapat tampak ketika individu menganggap bahwa:

  • Bertahan di pekerjaan dapat menjadi lebih aman secara finansial, tetapi harus menghadapi stres kerja setiap hari.
  • Memilih resign untuk menenangkan pikiran dari stres kerja tapi dilain sisi juga memunculkan kecemasan karena kehilangan pemasukan

Lalu, apa Itu sehat mental?

Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan mental adalah kondisi ketika seseorang mampu menyadari potensinya, menghadapi tekanan hidup sehari-hari, bekerja secara produktif, serta berkontribusi bagi lingkungannya. Jahoda (1958) menjelaskan bahwa individu yang sehat secara mental umumnya memiliki:

  • Sikap positif terhadap diri sendiri (Attitudes towards own self): memiliki penerimaan diri, harga diri, rasa identitas yang kuat dan menyadari kelebihan serta kekurangan diri sendiri.
  • Kemampuan mengembangkan potensi (Growth, development and self actualization): fokus pada pengembangan potensi diri secara terus menerus dan kemampuan untuk berkembang dalam hidup
  • Integrasi (integration): kemampuan untuk mempertahankan keseimbangan psikologis, menyatukan berbagai aspek kepribadian dan memiliki ketahanan terhadap stres
  • Otonomi (autonomy): kemampuan untuk mandiri, mengambil keputusan sendiri dan tidak terlalu bergantung pada orang lain atau lingkungan
  • Persepsi realitas (perception of reality): memandang dunia dan diri sendiri secara objektif, tanpa distorsi yang berlebihan oleh kebutuhan atau keinginan pribadi
  • Penguasaan lingkungan (environmental mastery): mampu beradaptasi, berinteraksi secara efektif dengan lingkungan serta sukses dalam hubungan sosial, pekerjaan dan waktu luang.

Sehat mental bukan berarti tidak pernah mengalami stres, melainkan mampu mengelola tekanan hidup secara adaptif.

Apa Itu Financial Well-Being?

Financial well-being adalah kondisi ketika seseorang merasa aman secara finansial, mampu memenuhi kebutuhan saat ini maupun di masa depan, serta mampu membuat pilihan-pilihan yang memungkinkan mereka hidup. Dengan kata lain, financial well-being bukan sekedar tentang jumlah uang yang dimiliki, tetapi juga tentang rasa aman, kontrol terhadap keuangan, dan keyakinan menghadapi masa depan.

Hubungan Sehat Mental dan Sehat Finansial

Ternyata, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kesehatan mental dan kondisi finansial saling berkaitan. Penelitian Nurkhalida & Renanita (2025) menemukan bahwa perilaku finansial yang lebih baik berdampak pada peningkatan kesejahteraan sehingga dengan meningkatkan kesejahteraan keuangan maka dapat menurunkan tingkat stres yang dirasakan. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Tibbetts (2025) menunjukkan bahwa kesulitan keuangan merupakan faktor risiko yang signifikan bagi kesehatan mental.

Bagaimana Menyeimbangkan Keduanya?

Alih-alih memilih salah satu, yang lebih penting adalah membangun keseimbangan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • mengenali pola pikir tentang uang (money script) yang terbentuk sejak kecil,
  • membedakan kebutuhan emosional dengan kebutuhan finansial,
  • tidak menjadikan uang sebagai sumber utama harga diri,
  • membangun dana darurat agar muncul rasa aman,
  • mengelola stres secara sehat,
  • menjaga work-life balance,
  • membangun dukungan sosial,
  • serta melatih mindfulness dan resiliensi.

Pada akhirnya, sehat mental dan sehat finansial bukanlah dua tujuan yang harus dipertentangkan. Uang memang penting karena memberikan rasa aman dan memenuhi kebutuhan hidup. Namun, kesehatan mental juga sama pentingnya karena memengaruhi cara kita bekerja, mengambil keputusan, mengelola emosi, bahkan mengelola uang itu sendiri. Alih-alih bertanya, “Mana yang harus dipilih?”, mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah:

“Bagaimana aku bisa menjaga kesehatan mental sekaligus membangun kondisi finansial yang lebih sehat?”

Karena ketika keduanya berjalan seimbang, kita bukan hanya mampu bertahan menghadapi tantangan hidup, tetapi juga memiliki kesempatan untuk benar-benar berkembang.

Artikel Ini disusun berdasarkan webinar Selaras Bertumbuh berjudul “Sehat Mental vs Sehat Finansial?” yang dibawakan oleh Weldina Siswandi, M.Psi., Psikolog

SUMBER REFERENSI

Consumer Financial Protection Bureau. (2015). Financial well-being: The goal of financial education. U.S. Government Publishing Office. https://files.consumerfinance.gov/f/201501_cfpb_report_financial-well-being.pdf

Ehrlich, C., & Fasbender, U. (2020). Approach-avoidance conflict. Encyclopedia of Personality and Individual Differences, 1-7.

Jahoda, M. (1958). Current concepts of positive mental health. Basic Books.

Nurkhalida, K., & Renanita, T. (2025). The Mediating Role of Financial Well-Being in the Relationship between Financial Behavior and Stress Among Irregular Income Workers. Psikologika: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi, 30(2).

Tibbetts, J. A. (2025). The longitudinal relationship between financial hardship and mental health – A systematic review of the evidence. SSM – Mental Health, 8, 100481. https://doi.org/10.1016/j.ssmmh.2025.100481

World Health Organization. (2022, June 17). Mental health: Strengthening our response. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/mental-health-strengthening-our-response