Oversharing
Ketika Berbagi Cerita Menjadi Terlalu Banyak
Pernah ngga kamu curhat atau mengeluh di media sosial saat kamu lagi merasa sedih, marah, ada masalah tapi setelahnya kamu justru malah menyesal dan kepikiran untuk menghapusnya saja? Jika hal itu terjadi sama kamu, bisa jadi kamu merasa oversharing.

Apa Itu Oversharing?
Oversharing adalah perilaku membagikan informasi pribadi secara berlebihan, terlalu cepat, atau kepada orang yang kurang tepat. Namun, tidak semua bentuk berbagi cerita merupakan hal yang buruk. Dalam psikologi, perilaku membuka diri kepada orang lain dikenal sebagai self-disclosure, yaitu proses mengungkapkan pikiran, perasaan, pengalaman, atau informasi pribadi kepada orang lain. Self-disclosure merupakan bagian penting dalam membangun dan memelihara hubungan dan berkaitan dengan dukungan sosial serta kesejahteraan mental (Nguyen, Philips, Rodriguez, Young & Ramdass, 2022). Namun yang menjadi masalah ketika keterbukaan tersebut dilakukan tanpa mempertimbangkan konteks, hubungan, dan konsekuensinya.
Too Much Information (TMI) vs Too Little Information (TLI)
Dalam kehidupan sosial, terdapat dua kondisi yang sering muncul: TMI yaitu membagikan terlalu banyak informasi pribadi dan TLI yaitu terlalu menutup diri dan jarang berbagi. Keduanya dapat menimbulkan kondisi psikologis yang berbeda. TMI berpotensi memengaruhi reputasi sosial dan hubungan interpersonal, sedangkan TLI dapat membuat stres mental bagi seseorang.


Mengapa Manusia Suka Bercerita Tentang Dirinya?
Dalam penelitian menggunakan fMRI, Tamir dan Mitchell (2012) menemukan bahwa ketika seseorang berbicara tentang dirinya sendiri akan mengaktifkan area otak yang sama dengan yang terlibat dengan sistem penghargaan (reward system) seperti ketika seseorang mendapatkan hadiah, menikmati makanan favorit, atau mengalami pengalaman menyenangkan lainnya. Temuan ini menunjukkan bahwa menceritakan pengalaman pribadi tidak hanya sebagai kebutuhan sosial saja melainkan juga memberikan sensasi menyenangkan bagi otak dan memberi rasa kenyamanan secara biologis.
Menekan emosi dapat berdampak negatif
Gross & john (2003) menemukan bahwa individu yang cenderung menekan ekspresi emosi (emotional suppression) memiliki emosi positif yang lebih rendah, hubungan interpersonal yang lebih buruk, tingkat kesejahteraan psikologis yang lebih rendah serta kepuasan hidup yang rendah. Sedangkan self disclosure atau pengungkapan emosi pribadi sering kali menghasilkan dukungan sosial yang kemudian memberikan manfaat psikologis secara psikologis dan penting dalam membangun serta mempertahankan hubungan interpersonal (Nguyen dkk, 2022).

Jika Berbagi Itu Sehat, Mengapa Bisa Menjadi Oversharing?
Salah satu penjelasannya dapat berdasarkan Attachment Theory. Individu dengan pola anxious attachment cenderung memiliki ketakutan akan penolakan dan mereka mendambakan dukungan emosional, kedekatan, dan kepastian dari pasangan romantis mereka. Hal ini terkadang membuat seseorang membuka diri terlalu cepat kepada orang lain. Misalnya, saat baru mengenal seseorang, mereka langsung menceritakan trauma masa lalu, konflik keluarga, atau pengalaman hidup yang sangat pribadi. Dalam situasi seperti ini, tujuan utama sering kali bukan sekadar berbagi cerita, melainkan mencari rasa aman, penerimaan, atau validasi dari orang lain.
Mengapa Oversharing Lebih Sering Dilakukan di Media Sosial?
Perilaku oversharing pada kalangan Generasi Z di media sosial terutama didorong oleh kebutuhan untuk mencari validasi dan dukungan sosial dalam lingkungan yang dianggap aman dan tidak menghakimi. Suler (2004) memperkenalkan konsep Online Disinhibition Effect, yaitu kecenderungan seseorang untuk lebih intens dalam mengungkapkan diri atau bertindak secara emosional di dunia online dibandingkan saat berinteraksi langsung di dunia nyata. Hal ini terjadi karena beberapa faktor diantaranya adanya rasa anonimitas, yaitu orang merasa tidak diketahui siapa dirinya, tidak melihat reaksi orang lain secara langsung, komunikasi yang tidak berlangsung secara real-time. Selain itu Media sosial memberikan ruang bagi individu untuk memperluas jejaring sosial dan mencari validasi dari orang lain. Pengguna seringkali mencari perhatian dalam bentuk like, komentar maupun share, hal ini memicu memicu pelepasan dopamin yang membuat seseorang terdorong untuk terus membagikan pengalaman pribadi demi mendapatkan respons sosial.

Apa Dampak dari Oversharing?
Meskipun dapat memberikan rasa lega sesaat, oversharing memiliki beberapa risiko.
1. Reputasi Sosial
Informasi pribadi yang dibagikan secara luas dapat memengaruhi bagaimana orang lain memandang kita, termasuk dalam hubungan sosial maupun profesional.
2. Manipulasi dan Penyalahgunaan Informasi
Semakin banyak informasi pribadi yang tersedia secara publik, semakin besar kemungkinan informasi tersebut dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
3. Cyberbullying
Membagikan informasi sensitif dapat meningkatkan risiko menjadi sasaran ejekan, kritik, atau serangan di dunia maya.
4. Digital Footprint
Informasi yang diunggah ke internet dapat bertahan dalam waktu yang sangat lama dan sulit sepenuhnya dihapus, sehingga jejak digital perlu dipertimbangkan sebelum mengunggah sesuatu.
Menemukan Batas yang Sehat
Terdapat konsep disclosure flexibility, yaitu kemampuan untuk menyesuaikan apa yang dibagikan, kepada siapa, dan dalam situasi apa. Tidak semua hubungan membutuhkan tingkat keterbukaan yang sama. Misalnya:
– Sahabat → keterbukaan tinggi
– Pasangan → keterbukaan tinggi
– Psikolog atau konselor → keterbukaan sangat tinggi
– Rekan kerja → keterbukaan terbatas
– Media sosial → keterbukaan sangat selektif
Kemampuan menilai konteks inilah yang menjadi kunci keterbukaan yang sehat.

Berbagi cerita, mengungkapkan emosi, dan meminta bantuan merupakan bagian penting dari kesehatan mental manusia. Namun, keterbukaan yang sehat bukan berarti menceritakan semuanya kepada semua orang, sehingga yang penting diingat adalah apakah kita sudah berbagi di tempat yang tepat, kepada orang yang tepat dan dengan tujuan yang tepat atau belum.

Pertanyaan yang dapat kita ajukan sebelum membagikan sesuatu untuk menghindari oversharing adalah:
“Apakah orang yang mendengar cerita ini adalah orang yang tepat?”
“Apakah informasi yang akan saya bagikan relevan dengan konteks percakapan saat ini?”
“Apakah saya akan tetap nyaman jika informasi ini masih dapat diakses beberapa tahun dari sekarang?”
Artikel ini disusun berdasarkan webinar Selaras Bertumbuh berjudul “Oversharing: Ketika Berbagi Cerita Menjadi Terlalu Banyak” yang dibawakan oleh Muhammad Fikri Pratama, S.Psi, M.Si
SUMBER REFERENSI:
Campbell, L., & Marshall, T. (2011). Anxious attachment and relationship processes: An interactionist perspective. Journal of Personality, 79(6), 1219–1250. https://doi.org/10.1111/j.1467-6494.2011.00723.x
Khalid, S., Batool, S., Zaman, S., & Kamran, M. (2022). Self-disclosure paradox: The contextual requirements for the relationship of self-disclosure and self-disclosure flexibility with personal growth in young adults.
Nguyen, L., Phillips, C. V., Rodriguez, A., Young, A. R., & Ramdass, J. V. (2022). Relationships matter! Social safeness and self-disclosure may influence the relationship between perceived social support and well-being for in-person and online relationships. Journal of Applied Social Psychology, 52(12), 1-10 https://doi.org/10.1111/jasp.12921
Suler, J. (2004). The online disinhibition effect. Cyberpsychology & behavior, 7(3), 321-326.
Susilo, Prayudi, & Florestiyanto. (2025). Oversharing behavior in Gen Z on social media. In SHS Web of Conferences (Vol. 212, p. 04022). EDP Sciences.
Tamir, D. I., & Mitchell, J. P. (2012). Disclosing information about the self is intrinsically rewarding. Proceedings of the National Academy of Sciences, 109(21), 8038–8043. https://doi.org/10.1073/pnas.1202129109
Yosida, E. (2024). Persepsi Gen Z Mengenai Perilaku Oversharing di Media Sosial. IkraHumaniora: Jurnal Sosial Dan Humaniora, 9(1), 1-9.
