Married in This Economy?
Memahami Fenomena Gen Z yang Menunda Pernikahan: Faktor Ekonomi atau Sosial?

Jaman dulu, menikah sering dianggap sebagai “fase hidup wajib” yang harus dijalani setelah menginjak masa dewasa. Di generasi kakek-nenek atau bahkan orang tua kita, menikah di usia muda bahkan sebelum usia 20 tahun merupakan hal yang biasa. Namun pada jaman sekarang, pemandangannya mulai berubah. Banyak Gen Z yang justru memilih untuk menunda pernikahan, bahkan ada yang takut untuk menikah. Bagi sebagian dari mereka membangun karier, mencari kestabilan finansial atau menikmati hidup merupakan hal yang lebih penting. Tidak sedikit pula yang merasa lebih takut hidup susah daripada hidup sendiri.
Data menunjukkan terkait tren pernikahan memang mengalami penurunan. Dalam 6 tahun terakhir terjadi penurunan angka pernikahan di Indonesia. Selain itu, sekitar 71,04% pemuda usia 16–30 tahun tercatat belum menikah. Fenomena ini memunculkan pertanyaan: apakah Gen Z benar-benar tidak ingin menikah, atau sebenarnya sedang menunda karena berbagai pertimbangan?
Mengenal Karakteristik Gen Z
Menurut Arum, Zahrani & Duha (2023), Gen Z adalah generasi yang lahir sekitar tahun 1997–2012, yang artinya sekarang berada pada rentang usia remaja hingga dewasa muda. Gen Z tumbuh di tengah dunia yang tidak stabil dan banyak perubahan, perkembangan teknologi dan paparan informasi yang tanpa batas sehingga menghasilnya pemikiran yang jauh lebih terbuka, mandiri, memiliki kesadaran yang lebih tinggi akan karir, kebebasan pribadi, pendidikan dan kesehatan serta memprioritaskan diri untuk hidup dan berkembang. Hal-hal inilah yang kemudian membuat Gen Z tidak terlalu melihat bahwa pernikahan sebagai “fase hidup wajib” melainkan sebuah pilihan hidup yang perlu dipersiapkan dengan matang.
Faktor Ekonomi: Apakah Ini Alasan Utama?

Ketika membahas alasan menunda menikah, faktor ekonomi hampir selalu menjadi faktor permasalahan. “Mau ngasih makan apa buat pasangan dan anak-anak nanti?”. Banyak Gen Z merasa kondisi finansial mereka belum cukup stabil untuk membangun rumah tangga. Apalagi dengan pemikiran yang lebih terbuka dan banyak informasi yang terpapar, seringkali Gen Z memikirkan hal-hal jauh kedepan yang membuat semakin khawatir untuk menikah.
Beberapa alasan yang sering muncul antara lain:
- Biaya hidup semakin tinggi
- Gaji belum memadai
- Sulit memiliki rumah atau aset
- Ingin mencapai stabilitas finansial dulu: punya tabungan, dana darurat, dll
- Takut akan hidup susah, tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga di masa depan dan
- Lebih realistis dan disiplin mengatur keuangan
Namun dalam psikologi, faktor ekonomi tidak hanya mengenai uang. Faktor ini juga seringkali berkaitan dengan rasa aman psikologis. Seseorang yang merasa keamanannya masih rendah atau kondisi hidupnya belum stabil dapat merasa bahwa komitmen jangka panjang seperti pernikahan menjadi sesuatu yang mengancam.
Faktor Sosial dan Psikologis: Perubahan Nilai dan Makna Pernikahan

Pada generasi sebelumnya, pernikahan sering dipandang sebagai sesuatu yang “kewajiban sosial” atau “fitrah” “perintah agama” Namun bagi banyak Gen Z, makna pernikahan mulai berubah, pernikahan menjadi sebuah pilihan. Banyaknya paparan terkait hubungan yang tidak sehat seperti tumbuh dengan melihat konflik rumah tangga, perceraian, hubungan toxic baik dari pengalaman diri maupun paparan di sosial media, hal ini juga memengaruhi cara mereka dalam memandang pernikahan dan memunculkan rasa kehati-hatian. Media sosial memang memiliki pengaruh besar dalam membentuk pandangan Gen Z terhadap pernikahan. Di satu sisi, membuat lebih sadar akan:
- Tanda hubungan yang tidak sehat,
- Pentingnya kesehatan mental,
- Komunikasi yang sehat,
- Relasi yang suportif.
Namun di sisi lain, juga memunculkan standar hubungan yang terlalu ideal. Orang jadi sering membandingkan:
- Pasangan,
- Gaya hidup,
- Kondisi finansial,
- Kualitas hubungan mereka dengan orang lain.
Fenomena ini dapat memicu overthinking dalam mengambil keputusan menikah. Seseorang menjadi merasa belum cukup mapan, dewasa, belum menemukan pasangan yang sempurna atau merasa harus mencapai kondisi ideal terlebih dahulu sebelum menikah. Padahal kenyataannya, tidak ada hubungan dan kesiapan yang benar-benar sempurna. Memang perlu dipahami bahwa menikah bukan sekedar soal uang, kesiapan menikah juga mencakup kemampuan mengelola emosi, komunikasi, penyelesaian konflik, kedewasaan psikologis, kemampuan bekerja sama dan kesiapan membangun komitmen.
Karena itu, kesiapan menikah sebaiknya dipahami sebagai kombinasi antara:
- Kesiapan diri,
- Rasa aman,
- Kedewasaan emosional,
- Kemampuan bertumbuh bersama pasangan.
Pertanyaan Reflektif untuk Diri Sendiri

Sebelum terburu-buru menikah ataupun merasa tertinggal karena belum menikah, mungkin ada beberapa pertanyaan yang bisa direfleksikan:
- Apa makna pernikahan bagiku?
- Apakah aku menunda karena persiapan atau karena ketakutan?
- Apa indikator “siap menikah” menurut versi aku sendiri?
- Apakah standarku realistis atau terlalu dipengaruhi media sosial?
Tidak semua orang memiliki timeline hidup yang sama. Menikah cepat bukan selalu lebih baik, dan menikah lebih lambat juga bukan berarti gagal. Pada akhirnya, keputusan menikah memang keputusan besar. Namun menunda pernikahan karena berlandas ketakutan yang terlalu besar juga akan membuat kita semakin takut untuk menikah. Pernikahan memang perlu dipersiapkan, tapi tidak harus menunggu sampai semuanya sempurna. Karena yang terpenting bukan kesempurnaan, melainkan kesiapan untuk saling bertumbuh dan menjalani kehidupan bersama.
Artikel ini disusun berdasarkan webinar Selaras Bertumbuh berjudul “Married in this economy?? Memahami fenomena Gen Z yang menunda pernikahan, faktor ekonomi atau sosial?” yang dibawakan oleh Dhia Ulfah P., M.Psi., Psikolog
SUMBER REFERENSI:
Arum, L. S., Zahrani, A., & Duha, N. A. (2023). Karakteristik Generasi Z dan Kesiapannya dalam Menghadapi Bonus Demografi 2030. Accounting student research journal, 2(1), 59-72.
Badan Pusat Statistik. (2025). Statistik Pemuda Indonesia 2025. https://www.bps.go.id/id/publication/2025/12/12/1a88777089ce471db17bb1fb/statistik-pemuda-indonesia-2025.html
Indriyanti, S., Wulandari, D. A., Wibowo, U. D. A., & Noveni, N. A. (2025). Makna Pernikahan berdasarkan Sudut Pandang Generasi Z di Kabupaten Cilacap. Jurnal Empati, 13(4), 369-374.
