2025 Masih Ngerasa Gagal?

Belajar Mengapresiasi Perjalanan Diri, Bukan Membandingkan Pencapaian Orang Lain

Menjelang akhir tahun, biasanya bagi beberapa orang terasa berat dan gelisah. Momen akhir tahun seringkali menjadi momen evaluasi sekaligus perbandingan diri. Timeline media sosial mungkin dipenuhi pencapaian-pencapaian orang lain. Tidak sedikit orang yang kemudian malah mengingat banyak momen negatif dari dirinya atau mempertanyakan dirinya “Kok hidup aku kayanya gini-gini aja ya?”. Dalam psikologi, kecenderungan otak dalam menangkap pengalaman negatif dibanding positif dikenal sebagai negativity bias.

Mengapa Kita Mudah Merasa Gagal?

Perasaan gagal sebenarnya tidak selalu muncul karena seseorang benar-benar tidak berkembang. Sering kali, rasa gagal muncul karena seseorang terlalu banyak membandingkan dirinya dengan standar eksternal. Penelitian menunjukkan dampak negatif perbandingan sosial di media sosial berkaitan dengan meningkatnya stres dan kecemasan, menurunnya harga diri (self-esteem), hingga berkurangnya kebahagiaan dan kualitas hidup. Media sosial dapat membuat seseorang merasa tertinggal dan gagal, meskipun sebenarnya ia tetap berkembang dalam jalannya sendiri.

Gagal vs Merasa Gagal

“Gagal” biasanya lebih objektif dan memiliki kriteria yang jelas dan terukur. Misalnya, tidak lolos PTN impian, gagal diterima kerja, atau kalah ketika lomba. Hasilnya memang belum sesuai target, dan valid untuk dirasakan menyakitkan. Namun, kegagalan jenis ini masih bisa dipelajari dan dievaluasi. Sedangkan “merasa gagal” cenderung lebih subjektif. Contohnya seperti “Aku bukan pasangan yang sempurna.” “Aku nggak sesukses teman-teman seumuranku.” Perasaan gagal yang lebih subjektif ini sering dipengaruhi oleh standar pribadi dan lingkungan dan seringkali lebih berat. Fokusnya sudah bukan tentang apa yang terjadi, tapi tentang bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri.

Kapan “Gagal” dan “Perasaan Gagal” Menjadi Masalah Psikologis?

Menariknya, yang membuat gagal atau perasaan gagal menjadi masalah psikologis bukan terletak pada hasil yang tidak tercapai, melainkan terletak pada bagaimana seseorang menginterpretasikan kegagalan tersebut, ketika kegagalan tersebut dijadikan sebagai ukuran nilai diri dan menganggap kegagalan itu sebagai kegagalan permanen dan mendefinisikan dirinya kegagalan tersebut, maka seseorang dapat mengalami learned helplesness.

Learned Helplessness: Ketika Seseorang Mulai Menyerah Sebelum Mencoba

Konsep learned helplessness diperkenalkan oleh Martin Seligman dan Steven Maier, merupakan kondisi psikologis ketika seseorang beberapa kali mengalami peristiwa negatif atau kegagalan dan mereka meyakini bahwa setiap usahanya tidak akan mengubah situasi atau hal buruk yang terjadi di masa depan sehingga membuat orang berhenti mencoba, kondisi ini sering dikaitkan dengan depresi (Nickerson, 2024). Pikiran yang sering muncul misalnya “Percuma berusaha, hasilnya bakal sama.” “Ya mau gimana pun aku gagal terus.” Kondisi ini biasanya muncul ketika kegagalan terjadi berulang, terasa tidak bisa dikendalikan dan dimaknai sebagai cerminan nilai diri. Penting dipahami bahwa learned helplessness bukan sifat kepribadian. Ini adalah pola belajar psikologis, artinya bisa diubah. Salah satu caranya adalah dengan membangun kembali sense of control, memaknai ulang pengalaman gagal, dan mendapatkan dukungan yang tepat.

Apa yang Bisa Dilakukan?

1. Validasi Emosi yang Dirasakan

Sedih, kecewa, marah, atau lelah adalah emosi yang valid ketika seseorang mengalami kegagalan. Menerima emosi bukan berarti menyerah. Justru, menekan emosi terlalu lama dapat memperberat beban psikologis. Banyak orang merasa harus selalu kuat dan positif, padahal penerimaan emosi merupakan langkah awal yang sehat dalam proses pemulihan psikologis. Kuncinya adalah mengakui dan menerima terlebih dahulu, bukan untuk menjadikan pasrah dan menyerah.

2. Mengapresiasi Perjalanan Diri

Salah satu hal yang sering terlupakan adalah menghargai proses. Kita terlalu fokus pada hasil besar sampai lupa bahwa kemajuan tidak selalu berjalan lurus. Progress tidak selalu linear. Ada fase maju, stagnan, bahkan mundur. Namun semuanya tetap bagian dari proses perkembangan manusia. Kecepatan juga bukan indikator nilai diri. Ada orang yang berhasil cepat, ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Namun tidak berarti yang lambat sudah pasti lebih buruk. Belajar menghargai langkah kecil sangat penting. Bangun pagi saat sedang depresi, tetap bekerja di tengah kecemasan, mencoba lagi setelah gagal itu juga bentuk pencapaian kecil.

3. Stop Membandingkan Diri dengan Orang Lain

“Kadang bukan hidup kita yang tertinggal, tapi kita kebanyakan membandingkan behind the scenes kita dengan highlight orang lain.” Media sosial membuat kita rentan hanya melihat hasil akhir orang lain, kita tidak tahu bagaimana perjuangannya, bagaimana kegagalannya atau proses panjang di baliknya.

4. Melakukan Refleksi Diri yang Lebih Sehat

Psikolog Aaron Beck menjelaskan bahwa bukan peristiwa itu sendiri yang secara langsung menentukan emosi seseorang, tetapi makna yang diberikan terhadap peristiwa tersebut. Misalnya: Fakta: “Aku tidak lolos PTN tahun ini.” Makna negatif: “Aku bodoh dan tidak punya masa depan.” Padahal keduanya berbeda. Dalam pendekatan CBT (Cognitive Behavioral Therapy), seseorang diajak untuk membedakan antara fakta dan cerita yang dibuat pikirannya sendiri. Contoh reframe yang lebih sehat: “Aku memang belum lolos PTN tahun ini, dan itu menyakitkan. Tapi itu bukan bukti aku bodoh. Ini tanda strategi belajarku perlu diperbaiki, dan masih ada alternatif lain yang bisa dicoba.”

Refleksi yang sehat juga perlu disertai langkah kecil yang realistis, misalnya memperbaiki jadwal belajar, membatasi media sosial, mulai kembali rutinitas sederhana, atau meminta bantuan ketika diperlukan.

Ingat bahwa tidak semua orang memiliki garis waktu hidup yang sama. Ada orang yang ‘sukses’ di usia muda, ada yang menemukan jalannya lebih lambat. Ada yang terlihat sukses dan baik baik saja, tapi sebenarnya juga berjuang keras di dalamnya. Maka dari itu, pertanyaan sebenarnya bukan “Kenapa aku belum seperti mereka?” Tetapi “Apakah aku sudah cukup menghargai perjalanan diriku sendiri dan mau untuk selalu memperbaikinya?”. 

Kegagalan memang bisa menyakitkan. Namun kegagalan bukan identitas diri. Selama seseorang masih mau belajar, mencoba, dan bangkit kembali, maka hidupnya belum selesai.

Artikel ini disusun berdasarkan webinar Selaras Bertumbuh berjudul “2025 Masih Ngerasa Gagal? “Belajar Apresiasi Perjalanan Diri, Bukan Bandingin sama Pencapaian Orang Lain” yang dibawakan oleh Dessi Aryanti Dwi Putri, S.Psi., M.Si

SUMBER REFERENSI:

Beck, J. S. (2011). Cognitive behavior therapy: Basics and beyond (2nd ed.). New York: The Guilford Press Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success, How We Can Learn to Fulfill Our Potential. New York: Random House.

Biggs, A., Brough, P., & Drummond, S. (2017). Lazarus and Folkman’s psychological stress and coping theory. In C. L. Cooper & J. C. Quick (Eds.), The handbook of stress and health: A guide to research and practice (pp. 349–364). John Wiley & Sons. https://doi.org/10.1002/9781118993811.ch21

Maier, S. F., & Seligman, M. E. (1976). Learned helplessness: Theory and evidence. Journal of Experimental Psychology: General, 105(1), 3–46. https://doi.org/10.1037/0096-3445.105.1.3

Midgley, C., Thai, S., Lockwood, P., Kovacheff, C., & Page-Gould, E. (2021). When every day is a high school reunion: Social media comparisons and self-esteem. Journal of personality and social psychology, 121(2), 285–307. https://doi.org/10.1037/pspi0000336

Neff, K. D. (2003). Self-Compassion: An Alternative Conceptualization of a Healthy Attitude Toward Oneself. Self and Identity. 2(2), 86-101. https://doi.org/10.1080/15298860390129863

Neff, K., & Germer, C. (2018). The Mindful Self-Compassion Workbook A Proven Way to Accept Your Self, Build Inner Strength, And Thrive. New York: The Guilford Press

Nickerson, C. (2024, May 2). Learned helplessness: Seligman’s theory of depression. Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/learned-helplessness.html.

Samra, A., Warburton, W. A., & Collins, A. M. (2022). Social comparisons: A potential mechanism linking problematic social media use with depression. Journal of behavioral addictions, 11(2), 607–614. https://doi.org/10.1556/2006.2022.00023

Tian, J., Li, B., Zhang, R., Tian, J., Li, B., & Zhang, R. (2024). The Impact of Upward Social Comparison on Social Media on Appearance Anxiety: A Moderated Mediation Model. Behavioral Sciences, 15(1). https://doi.org/10.3390/bs15010008