Berjalan Bersama: Marriage is Scary Happy?
Berbagi cerita dengan yang sepaham
Pernikahan sering kali dipandang sebagai fase hidup yang membahagiakan. Namun di sisi lain, banyak juga yang justru merasa takut ketika membayangkan kehidupan setelah menikah. Mungkin takut kehilangan diri, takut pernikahan yang dijalani tidak harmonis, takut tidak siap akan tanggung jawab yang akan dihadapi dan ketakutan lainnya.

Ketakutan terhadap pernikahan sebenarnya suatu hal yang wajar, karena memutuskan untuk menikah bukan suatu hal mudah dan perlu tanggung jawab serta komitmen penuh. Pernikahan bukan sekedar tentang dua orang yang saling mencintai, tetapi juga menyatukan dua individu dengan latar belakang, pengalaman hidup, pola asuh, nilai, dan karakter yang berbeda, lalu belajar hidup bersama dalam jangka panjang. Namun pada dasarnya kehidupan memang selalu dipenuhi perubahan, masalah, dan konflik. Berdasarkan psikologi perkembangan manusia akan terus menghadapi tugas perkembangan dan penyesuaian sepanjang hidupnya (Orienstein, Gabriel & Jasleen, 2026).
Pernikahan adalah Awal Dinamika Baru
Dalam kehidupan, manusia melewati berbagai tahapan perkembangan mulai dari bayi, remaja, dewasa, hingga lansia. Pada setiap fase, seseorang menghadapi tantangan fisik, mental, sosial, ekonomi, budaya, dan spiritual yang berbeda. Menurut teori perkembangan psikososial dari Erik Erikson, dewasa awal merupakan fase ketika seseorang berusaha membangun kelekatan dan hubungan intim yang sehat dengan orang lain.

Mengapa Pernikahan Bisa Terasa Menakutkan?
Ketakutan dalam hubungan sering kali berasal dari pengalaman masa lalu. Misalnya takut ditinggalkan karena pernah mengalami penolakan, takut konflik karena tumbuh di keluarga yang penuh pertengkaran, takut gagal karena melihat pernikahan orang tua yang tidak harmonis. Pengalaman masa kecil dapat membentuk attachment style atau pola kelekatan seseorang. Teori attachment menjelaskan bahwa hubungan awal dengan pengasuh memengaruhi cara individu membangun hubungan romantis saat dewasa. Individu dengan secure attachment cenderung lebih nyaman membangun kedekatan, sementara individu dengan anxious dapat lebih mudah merasa cemas dan takut ditinggalkan dan avoidant attachment cenderung menjauh dari keintiman emosional.

Kita Membawa “Diri Lama” ke Dalam Hubungan
Pentingnya memahami siapa diri kita sebenarnya dan siapa pasangan kita karena ketika kita masuk ke dalam sebuah hubungan kita bukanlah “kertas kosong”. Kita membawa nilai hidup, karakter, pola komunikasi, luka batin, ekspektasi dan pengalaman masa lalu. Manusia cenderung tertarik pada orang yang mirip dengan dirinya atau mirip dengan lingkungan terdekatnya. Namun kesamaan saja tidak cukup. Hubungan sehat juga membutuhkan kemampuan menerima perbedaan. Banyak konflik pernikahan sebenarnya karena kurangnya kemampuan memahami perspektif satu sama lain.
Pengaruh Lingkungan terhadap Cara Kita Menjalani Hubungan

Melalui teori ekologi Bronfenbrenner, individu dipahami sebagai bagian dari berbagai sistem lingkungan keluarga, pasangan, teman, budaya, sistem ekonomi hingga nilai masyarakat. Artinya, hubungan pernikahan tidak hanya dipengaruhi oleh dua individu, tetapi juga oleh lingkungan di sekitarnya. Misalnya tekanan ekonomi dapat meningkatkan stres rumah tangga, campur tangan keluarga dapat memicu konflik, standar media sosial dapat menciptakan ekspektasi tidak realistis tentang hubungan. Karena itu, pasangan perlu membangun support system yang sehat dan realistis, tidak sekadar hubungan yang terlihat “sempurna” di luar namun “rapuh” di dalam.
Pentingnya Self-Awareness Sebelum Menikah

Beberapa refleksi penting yang dapat dilakukan.
Tanyakan pada diri sendiri, siapakah aku sebenenarnya:
- Bagaimana latar belakang waktu aku kecil?
- Bagaimana orangtuaku, kakek nenekku serta lingkunganku?
- Bagaimana pola asuh orangtuaku?
- Pendidikan yang aku dapatkan?
- Pengalamanku di luar rumah yang terkema kuat olehku?
Tanyakan pada diri sendiri, pasangan seperti apa yang ingin aku cari:
- Apa karakter yang wajib ada di pasanganku
- Apa nilai yang wajib ada pada pasanganku
- Apa karakter yang tidak harus ada
- Apa nilai yang tidak harus ada
Self awareness membantu kita memahami emosi, kebutuhan, dan pola perilaku. Seseorang yang memiliki kesadaran diri lebih baik cenderung lebih mampu mengelola konflik dan membangun hubungan yang sehat. Sebaliknya, banyak orang masuk ke hubungan hanya karena takut kesepian, tekanan usia, atau dorongan sosial, tanpa benar-benar memahami dirinya sendiri.
Pernikahan yang Sehat Bukan yang Tanpa Konflik
Gottman (2024) menunjukan bahwa pasangan yang memiliki hubungan paling bahagia dan langgeng tetap mengalami konflik atau pertengkaran, namun yang membedakan adalah kemampuan mereka dalam menangani konflik secara konstruktif, tahu bagaimana memperbaiki hubungan secara efektif.
Artikel ini disusun berdasarkan webinar Selaras Bertumbuh berjudul “Berjalan Bersama: Marriage is Happy? Berbagi cerita dengan yang sepaham” yang dibawakan oleh Hanum Swandarini, M.Psi, Psikolog
SUMBER REFERENSI:
Gottman, J & Gottman, J. S. (2024). Fight right: How successful couples turn conflict into connection. Harmony Books.
Guy-Evans, O. (2020). Bronfenbrenner’s ecological systems theory. Simply Psychology, 10518-046.
Hazan, C., & Shaver, P. (2017). Romantic love conceptualized as an attachment process. In Interpersonal development (pp. 283-296). Routledge.
Orenstein, G. A., & Kaur, J. (2026). Erikson’s stages of psychosocial development. StatPearls Publishing LLC.
