Hustle Culture: Kerja Keras atau Terlalu Keras?

(Antara Kebutuhan Pencapaian, Pengakuan dan Bertambahnya Pendapatan)

“Kalau Mau Jadi Orang Sukses Harus Kerja Keras”

Pasti pernah dengarkan kalimat seperti itu? Memang bukan kalimat yang salah. Kita membutuhkan usaha untuk mencapai tujuan. Namun bagaimana kalau kerja keras berubah menjadi terlalu keras dan jadi ukuran nilai diri?

Di era saat ini, kita hidup dengan budaya yang mengaggungkan kesibukan dan produktivitas. Bahkan seringkali membuat kita merasa bersalah untuk mengambil waktu beristirahat. Media sosial cukup berpengaruh dalam memperkuat narasi ini. Kita melihat orang lain mendapatkan pekerjaan yang bagus, posisi yang baik, memiliki gaya hidup yang mewah dan sebagainya. Namun yang kita lihat hanyalah hasil akhirnya, sementara kita membandingkan dengan keseluruhan hidup yang kita miliki.

Hustle culture dapat dipahami sebagai budaya yang menormalisasikan dan bahkan memuliakan kerja berlebihan, produktivitas tanpa henti yang membentuk cara pandang generasi muda tentang kesuksesan dan harga diri. Hal ini diperkuat dan dibentuk dari lingkungan, media sosial dan sistem ekonomi.

Keinginan untuk bekerja keras tidak serta merta menjadi sebuah kesalahan. Namun yang perlu kita perhatikan: untuk apa kita bekerja keras? Apakah karena pekerjaan tersebut memang penting bagi kita? Karena kita ingin berkembang? Karena pekerjaan tersebut memberi kehidupan yang kita inginkan? Atau karena kita takut tertinggal, takut dianggap tidak cukup sukses, atau merasa nilai diri kita bergantung pada pencapaian?


Mengapa Kita Terus Merasa Belum Cukup?

Menurut teori Social Comparison Festinger (1954), manusia memiliki kecenderungan untuk mengevaluasi dirinya dengan membandingkan diri dengan orang lain. Apalagi saat ini era media sosial, kesempatan membandingkan diri dengan orang lain semakin besar dan kadang tidak realistis. Kita membandingkan keseluruhan hidup kita hanya dari sebuah unggahan orang lain di media sosial. Penelitian menunjukan bahwa upward social comparison atau membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih unggul dapat berkaitan dengan penilaian diri yang lebih negatif. Meskipun kita juga tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa media sosial selalu buruk, karena dampak perbandingan sosial bersifat kompleks dan dipengaruhi oleh siapa penggunanya, bagaimana media sosial digunakan, serta konteks perbandingannya. Jika kita membandingkan dengan kemudian menjadi motivasi dalam hidup kita, justru kita akan jadi manusia yang bertumbuh.

Ambisi itu manusiawi, tetapi bisa berubah menjadi jebakan

Keinginan untuk berprestasi bukan sesuatu yang perlu dihilangkan. Dalam teori kebutuhan psikologis, manusia memiliki kebutuhan untuk merasa kompeten, memiliki autonomi, dan memiliki keterhubungan dengan orang lain (Ryan & Deci, 2000). Ketika kebutuhan-kebutuhan tersebut terpenuhi, motivasi dan kesejahteraan psikologis cenderung lebih baik. Artinya, kita memang membutuhkan rasa bahwa:

  • “Saya mampu berkembang.” (competence)
  • “Saya punya pilihan atas hidup saya.” (autonomy)
  • “Saya memiliki hubungan yang bermakna dengan orang lain.” (relatedness)

Ambisi dapat menjadi sehat ketika hal itu membantu kita bergerak menuju hal-hal yang memang penting. Masalahnya muncul jika pencapaian mulai digunakan sebagai alat untuk mendapatkan validasi dan mempertahankan harga diri. Konsep contingent self-worth menjelaskan kondisi ketika perasaan berharga seseorang sangat bergantung pada keberhasilan atau kegagalan dalam domain tertentu. Crocker dan Park (2004) menunjukkan bahwa usaha mempertahankan harga diri melalui pencapaian dapat memiliki konsekuensi psikologis yang mahal. Akibatnya, istirahat tidak lagi terasa seperti kebutuhan. Istirahat terasa seperti ancaman dan rasa bersalah. Ketika melihat orang lain yang lebih sukses yang ada dipikiran kita “Aku merasa tertinggal” pada titik ini, seseorang bisa jadi tidak lagi sedang bekerja untuk mencapai tujuan, melainkan bekerja untuk membuktikan bahwa dirinya berharga.

Bekerja lebih keras ≠ selalu bekerja lebih baik.

Analisis WHO dan ILO memperkirakan bahwa pada 2016, paparan bekerja 55 jam atau lebih per minggu berkaitan dengan sekitar 745.000 kematian akibat penyakit jantung iskemik dan stroke secara global. Ini bukan berarti setiap orang yang bekerja lebih dari 55 jam akan mengalami kondisi tersebut, tetapi menunjukkan bahwa jam kerja yang sangat panjang merupakan faktor risiko kesehatan yang penting.

Kapan kerja keras berubah menjadi terlalu keras?

Kerja keras yang sehat biasanya memiliki tujuan yang jelas, usaha yang terarah, memberikan ruang untuk menjaga kesehatan fisik dan mental (beristirahat), dan keberlanjutan. Pencapaian juga bukan satu-satunya sumber harga diri.

Sebaliknya, bekerja terlalu keras dapat ditandai oleh:

  • merasa harus selalu produktif;
  • sulit berhenti meskipun tubuh sudah lelah;
  • merasa bersalah ketika beristirahat;
  • mengorbankan tidur, kesehatan, relasi, atau kehidupan pribadi demi pekerjaan;
  • merasa gagal atau tidak berharga ketika tidak mencapai target;
  • sulit melepaskan pikiran tentang pekerjaan di luar jam kerja.

Bagaimana membangun hubungan yang lebih sehat dengan pekerjaan?

  1. Audit Motivasimu

“Apakah kamu bekerja demi makna (otonom) atau karena takut tertinggal dan butuh validasi (kontrol)?”

Pertanyaan tersebut dapat membantu kamu membedakan antara motivasi bekerja yang berasal dari nilai dan keinginan pribadi dengan motivasi yang terutama didorong rasa takut tertinggal atau kebutuhan pengakuan.

  1. Pisahkan identitas dari output

Dirimu lebih dari target atau pencapaian yang telah atau belum kamu peroleh. Keberhasilan tidak harus menjadi satu satunya alasan kamu merasa berharga. Begitupula kegagalan dalam pekerjaan tidak otomatis berarti kamu adalah seorang yang gagal. Nilaimu sebagai manusia tidak ditentukan oleh seberapa banyak checklist yang berhasil kamu penuhi hari ini.

  1. Kelola demands dan resources

Ketika tuntutan (demands) meningkat, kita juga membutuhkan sumber daya (resources): waktu pemulihan, dukungan sosial, kontrol terhadap pekerjaan, lingkungan yang sehat, dan batas yang jelas. Kurangi tuntutan yang bisa dinegosiasi. Maksimalkan dukungan teman, cuti dan batasan waktu.

  1. Cari Bantuan Profesional

Jika pekerjaan sudah sangat mengganggu tidur, hubungan sosial, kesehatan, suasana hati, atau kemampuan menjalani kehidupan sehari-hari, menemui psikolog bisa menjadi tanda self awareness untuk membantu memahami apakah yang kamu alami berkaitan dengan burnout, stres, kecemasan atau persoalan lainnya.


Artikel Ini disusun berdasarkan webinar Selaras Bertumbuh berjudul “Hustle Culture: Kerja Keras atau Terlalu Keras? antara Kebutuhan Pencapaian, Pengakuan dan Bertambahnya Pendapatan” yang dibawakan oleh Latifah Nisa T., M.Psi., Psikolog, CH., CHt.


SUMBER REFERENSI

Crocker, J., & Park, L. E. (2004). The costly pursuit of self-esteem. Psychological Bulletin, 130(3), 392–414. https://doi.org/10.1037/0033-2909.130.3.392

Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “what” and “why” of goal pursuits: Human needs and the self-determination of behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227–268. https://doi.org/10.1207/S15327965PLI1104_01

Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations, 7(2), 117–140. https://doi.org/10.1177/001872675400700202

Hochschild, A. R. (1983). The managed heart: Commercialization of human feeling. University of California Press.

McClelland, D. C. (1961). The achieving society. D. Van Nostrand Company.

Meier, A., & Johnson, B. K. (2022). Social comparison and envy on social media: A critical review. Current Opinion in Psychology, 45, 101302. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2022.101302

Sonnentag, S. (2003). Recovery, work engagement, and proactive behavior: A new look at the interface between nonwork and work. Journal of Applied Psychology, 88(3), 518–528. https://doi.org/10.1037/0021-9010.88.3.518

Vogel, E. A., Rose, J. P., Roberts, L. R., & Eckles, K. (2014). Social comparison, social media, and self-esteem. Psychology of Popular Media Culture, 3(4), 206–222. https://doi.org/10.1037/ppm0000047

World Health Organization, & International Labour Organization. (2021). Global, regional and national burdens of ischemic heart disease and stroke attributable to exposure to long working hours for 194 countries, 2000–2016.