Breaking News, Breaking Mental?
(Tetap Peduli Tanpa Kehilangan Ketenangan Diri)


Apa yang seringkali kamu rasakan ketika membaca suatu berita? apakah mungkin rasa cemas yang dominan? kemarahan? atau emosi apa yang muncul? Setiap hari bahkan setiap jam maupun menit, ada saja berita yang bermunculan dan seringkali membuat kita lelah. Mulai dari berita konflik sosial, bencana, ketidakadilan semuanya datang begitu saja. Mengetahui apa yang terjadi tentu penting, namun pernahkah kita menyadari bahwa semakin sering kita membaca berita hal itu dapat memengaruhi kondisi psikologis kita?
Mengapa Isu Sosial dapat Menyentuh Kita?
Isu sosial dapat menyentuh berbagai aspek psikologis manusia, mulai dari empati, kebutuhan rasa aman, hubungan sosial hingga nilai tentang keadilan dan harapan terhadap masa depan. Masalahnya bukan pada rasa kepedulian. Kepedulian merupakan hal yang penting, namun jika itu membuat kita merasa harus selalui mengikuti dan mengetahui segalanya bahkan sampai merasa bertanggung jawab terhadap seluruh persoalan yang terjadi, hal ini yang kemudian perlu kita perhatikan ulang.
Bagaimana Respon Emosi Terbentuk?

Satu peristiwa yang sama dapat memunculkan emosi yang berbeda bagi tiap orang. Respon emosional tidak hanya dipengaruhi oleh kejadian yang terjadi, melainkan juga bagaimana seseorang memaknai peristiwa tersebut. Misalnya, ketika membaca berita tentang PHK massal, orang A mungkin berpikir “Bagaimana nasib orang itu dan keluarganya? Kalau itu juga terjadi sama aku gimana ya?” maka emosi yang muncul dominan cemas. Sementara orang B “Kasihan banget, pasti berat banget rasanya” emosi yang muncul sedih. Kemudian orang C “Ngga adil banget, kenapa bisa sampai PHK massal. Ini pasti salah….” maka emosi yang muncul marah, sedangkan orang D yang berpikir “Situasinya berat ya, berarti perlu mencari solusi dan langkah yang bisa dilakukan” akan lebih tenang dalam merespon berita tersebut. Dengan kata lain, alur respon emosi dapat terbentuk melalui peristiwa -> pemaknaan -> emosi -> respon.
Kelelahan Emosional dari Berita
Pola yang sering terjadi: paparan berita -> emosi muncul -> terus mengikuti perkembangan -> informasi semakin banyak -> kelelahan emosional -> kembali mencari informasi. Kebiasaan untuk mencari atau scrolling berita negatif meski merasa cemas dan lelah disebut dengan doomscrolling. Hal ini tidak berarti bahwa membaca berita selalu buruk. Informasi dapat membantu kita memahami situasi, mengambil keputusan dan melakukan tindakan yang tepat, namun jumlah informasi dan cara kita mengonsumsinya juga perlu diperhatikan. Ketika informasi datang terlalu banyak dan terus–menerus kita dapat mengalami information overload sehingga semakin sulit menentukan mana yang benar-benar penting.

Peduli ≠ Memikul Semuanya
Peduli berarti kita berusaha memahami situasi, merasakan empati dan melakukan sesuatu sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang kita miliki. Sementara memikul semuanya artinya bertanggung jawab atas semua masalah yang ada, harus tau semua informasi yang ada, merasa bersalah jika tidak dapat melakukan lebih banyak. Kita boleh peduli terhadap penderitaan orang lain tanpa harus ikut tenggelam di dalamnya. Justru, menjaga diri bukan berarti berhenti peduli melainkan memastikan kepedulianmu bisa bertahan lebih lama.
Apa yang Harus Dilakukan?
Salah satu cara sederhana unutk mengelola beban psikologis yaitu dengan membedakan antara hal yang berada dalam kendali dan di luar kendali. Kita mungkin tidak dapat mengendalikan komentar orang lain, konflik sosial, seluruh berita dan informasi yang beredar atau apa yang telah terjadi di masa lalu. Namun kita dapat mengendalikan bagaimana cara kita merespon, mengelola emosi, kapan kita membaca berita, sumber informasi yang kita pilih serta tindakan yang mau kita lakukan.

Menjaga kesehatan psikologis bukan berarti kita menutup mata terhadap realitas yang ada, kita tetap dapat mengikuti berita tetapi dengan cara yang lebih sehat dan sadar. Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
- Tentukan waktu khusus untuk baca berita. Tidak perlu selalu siaga, kita bisa berikan batas diri agar konsumsi informasi tidak mengambil keseluruhan perhatian dan menghabiskan energi.
- Pilih sumber informasi yang terpercaya.
- Beri jeda sebelum beraksi. Ketika sebuah berita memunculkan kemarahan atau kecemasan yang kuat, berhenti sejenak. Tarik napas dan tanyakan “Apa yang sebenarnya saya rasakan?” “Apa yang bisa aku lakukan?”
- Hindari berita sebelum tidur. Waktu menjelang tidur usahakan untuk biarkan tubuh mengirimkan sinyal untuk siap beristirahat dengan tidak membaca berita sebelum tidur.
Pada akhirnya, tujuan kita bukan untuk menjadi orang yang tidak peduli, kita justru ingin menjadi orang yang mampu peduli tanpa kehilangan diri sendiri. Ingat bahwa menjaga diri bukan berarti berhenti peduli. Menjaga diri berarti memastikan kepedulian kita dapat bertahan lebnih lama.
Artikel Ini disusun berdasarkan webinar Selaras Bertumbuh berjudul “Breaking News, Breaking Mental? (Tetap Peduli Tanpa Kehilangan Ketenangan Diri)” yang dibawakan oleh Riris Nurhanifiyanti, M.Psi., Psikolog.
SUMBER REFERENSI:
American Psychological Association. (2020). Publication manual of the American Psychological Association (7th ed.).
Figley, C. R. (1995). Compassion fatigue: Coping with secondary traumatic stress disorder in those who treat the traumatized. Brunner/Mazel.
Hobfoll, S. E. (1989). Conservation of resources: A new attempt at conceptualizing stress. American Psychologist, 44(3), 513–524.
Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, appraisal, and coping. Springer.
Nightingale, S. D., & Yarnold, P. R. (1993). Compassion fatigue in healthcare workers. Archives of Internal Medicine, 153(1), 67–69.
Pearlman, L. A., & Saakvitne, K. W. (1995). Trauma and the therapist. Norton.
Rosen, L. D. (2012). iDisorder: Understanding our obsession with technology. Palgrave Macmillan.
Sundararajan, L. (2015). Understanding emotion in Chinese culture. Springer.
Twenge, J. M., & Campbell, W. K. (2019). Media use is linked to lower psychological well-being. Emotion, 19(6), 1003–1021.
