Menjaga Jarak Demi Bisa Memaafkan

Menetapkan Batas Tegas untuk Memulihkan Hati Sebelum Mengeras

Boundary atau batasan merupakan aturan atau pondasi yang kita tetapkan untuk menjaga hubungan agar tetap sehat. Pentingnya memiliki batasan dalam hubungan diantaranya berguna melindungi kesejahteraan diri (baik secara mental, emosi maupun fisik), membantu kita dalam menentukan tindakan yang tepat dan aman, menghargai diri sendiri maupun orang lain serta membangun ekspektasi yang realistis. Kalau kamu sering mendengar istilah people pleaser atau orang yang selalu merasa ‘ngga enakan’ hingga mengorbankan dirinya sendiri, itu merupakan satu contoh mengapa pentingnya memiliki batasan dalam hubungan.

Setiap orang memiliki batasan yang berbeda beda, mungkin pada beberapa area tertentu secara sadar atau tidak sadar sudah menetapkan batasannya secara jelas, namun di beberapa area lainnya belum. Berikut beberapa area-area yang bisa menjelaskan dan membantu kamu mengenali batasan-batasan mana yang perlu kamu tetapkan untuk menjaga hubunganmu agar lebih sehat.

1. Emotional Boundaries

Batasan emosional bertujuan untuk melindungi perasaan dan kesejahteraan emosional. Dengan batasan emosional yang sehat, kita dapat menentukan seberapa banyak informasi pribadi yang ingin dibagikan, kapan waktu yang tepat untuk membagikan serta kepada siapa kita merasa aman dan percaya untuk berbagi. Disisi lain kita juga menghormati batasan emosional orang lain dan tidak memaksa mereka untuk berbagi lebih dari yang mereka nyaman lakukan. Contoh yang diluar batasan emosional misalnya terlalu banyak berbagi hingga membuat teman kita merasa tidak nyaman atau meremehkan perasaan orang lain. Contoh penerapan batasan yang sehat untuk diri sendiri dan orang lain “Aku merasa kurang nyaman membicarakan topik itu”,  “Saat ini aku belum siap membahas hal itu” , “Sepertinya masalah kamu cukup kompleks, aku tidak bisa membantumu. Gimana kalo kamu coba konseling dengan psikolog?”. 

2. Material Boundaries

Ada sebagain orang yang sulit sekali menolak ketika ada teman atau keluarga yang bukan jadi tanggungannya meminjam, membagikan atau bahkan meminta uang atau barang kepadanya. Padahal, kita memiliki hak untuk menentukannya. Kita juga memiliki hak untuk menetapkan bagaimana orang lain memperlakukan “barang” tersebut. Contoh yang diluar batasan material misalnya menggukan barang pinjaman lebih lama dari waktu yang telah disepakati, tidak mengembalikan sesuatu yang dipinjam, merusak barang milik orang lain atau mengembalikan dengan kondisi kurang baik saat dipinjam. Contoh penerapan yang sehatnya “Aku mau meminjamkan uang kepadamu, tapi harus dikembalikan paling lambat bulan depan.” “Saat ini pengeluaranku lagi banyak, jadi aku tidak bisa meminjamkanmu dulu” “Aku pinjemin bajunya, tapi kalo nanti ada noda/rusak, kamu perlu tanggung jawab yaa”

3. Sexual Boundaries

Batasan ini memastikan bahwa setiap orang yang terlibat dalam situasi seksual merasa nyaman dan memahami dengan jelas apa yang dapat diterima maupun tidak diterima. Termasuk apabila kamu memiliki prinsip tertentu seperti tidak ingin melakukan hubungan seksual sebelum menikah, maka kamu perlu mengomunikasikan hal ini dan pasanganmu perlu menoleransi apapun alasannya. Contoh penerapannya: kamu dapat mengatakan “Aku tidak ingin melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Tolong hormati dan hargai aku.”

4. Professional Boundaries

Apabila rekan kerja atau atasanmu meminta bantuanmu di luar jam kerja, kamu dapat menetapkan batasan dengan mengatakan “Saya kerjakan besok saat di kantor ya

5. Physical Boundaries

Memiliki batasan fisik yang jelas memengaruhi kenyamanan fisik serta ruang pribadimu. Kamu dapat memilih apakah kamu nyaman berjabat tangan, berpelukan atau kontak fisik lainnya dengan orang-orang yang kamu inginkan. Misalnya kalau kamu berprinsip untuk menjaga kontak fisik dengan lawan jenis yang bukan mahram, kamu dapat menolaknya dengan hanya memberikan bahasa non verbal berupa menempalkan kedua tanganmu sendiri sebagai bentuk isyarat.

6. Time and Energy Boundaries

Batasan ini penting untuk mengatur seberapa banyak waktu dan energi emosional yang bersedia kamu berikan untuk orang lain agar kamu tidak merasa kelelahan. Hal ini penting karena kamu memiliki kapasitas yang terbatas, sehingga tidak masalah jika kamu menolak untuk beberapa permintaan dari orang lain yang memang kamu tidak sanggup atau tidak untuk melakukannya. Contoh penerapannya, kamu dapat mengatakan “Aku hari ini ngga ikut pergi main ya, aku ingin istirahat dirumah”.

SAATNYA REFLEKSI!

Area-area tersebut merupakan beberapa batasan yang dapat kita pahami dan bisa kita refleksikan kembali. Sudah sejauh mana kita menghargai diri kita sendiri, atau justru kita lebih banyak menghargai orang lain dan mengorbankan diri sendiri? Tentu dalam menjalani hubungan yang sehat keduanya perlu seimbang, saling menghargai dan menghormati batasan masing-masing.

Jika masih kesulitan dalam membangun batasan, tidak masalah, karena memang butuh proses. Disaat ini, kamu bisa coba belajar mengenali nilai dirimu, mendengarkan bagaimana perasaanmu, kenali batasanmu, pertimbangkan jangka panjang dan masa depanmu, lalu belajar untuk mengomunikasikannya secara asertif dan saling menghargai diri dan orang lain.

Artikel ini disusun berdasarkan webinar Selaras Bertumbuh berjudul “Menjauh Demi Bisa Memaafkan: Menetapkan Batas Tegas untuk Memulihkan Hati Sebelum Mengeras” yang dibawakan oleh Mutiara Citra Mahmuda, S.Pd, M.A


SUMBER REFERENSI:

Cloud, H., & Townsend, J. S. (2017). Boundaries: When to Say Yes, How to Say No to Take Control of Your Life. Zondervan.

Gillis, K. (2023, July 13). 8 essential boundaries to have with others. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/invisible-bruises/202307/8-essential-boundaries-to-have-with-others

Martin, S. (2020, April 14). 7 types of boundaries you may need. Psych Central. https://psychcentral.com/blog/imperfect/2020/04/7-types-of-boundaries-you-may-need

Tawwab, N. G. (2021). Set Boundaries, Find Peace. TarcherPerigee.