Rejection Hurts, But You’ll Heal

Cara Elegan Menghadapi Penolakan dan Bangkit Tanpa Insecurities

Pernah merasa tidak dipilih, diabaikan atau dijauhkan? Entah karena di tolak dalam pekerjaan, tidak di ajak bermain dengan teman atau chat yang tidak di balas? Bagi sebagian orang, penolakan terasa sangat menyakitkan, memunculkan rasa insecure, mempertanyakan diri bahkan sampai takut untuk membuka diri. Meskipun penolakan terasa menyakitkan, tapi kita tetap bisa bangkit dengan cara yang sehat dan elegan lho.

Apa itu Rejection?

Penolakan atau rejection adalah situasi ketika seseorang merasa dijauhkan, ditolak, atau “dikeluarkan” dari hubungan maupun kelompok sosial. Penolakan bisa muncul dalam berbagai situasi, misalnya dalam pertemanan, keluarga, percintaan, rekan kerja atau mitra bisnis. Dalam konteks sosial, penolakan terjadi ketika orang lain tidak ingin melibatkan kita dalam hubungan mereka. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari diabaikan, tidak diajak bergabung hingga benar-benar di jauhkan.

Jenis-Jenis Penolakan

Menurut Freedman, Williams, & Beer (2016), penolakan dapat muncul dalam beberapa bentuk berikut:

1. Explicit Rejection

Merupakan bentuk penolakan yang paling jelas dan langsung. Seseorang secara terbuka mengatakan bahwa ia ngga bisa atau ngga mau memenuhi permintaan kita.

Contohnya:

  • Tidak diterima di universitas / kerja
  • Ajakan bermain yang secara langsung ditolak

2. Ostracism

Ostracism adalah situasi ketika seseorang diabaikan dan dijauhi tanpa penjelasan yang jelas. Tidak ada penolakan verbal, tetapi kita dibuat merasa “tidak ada”. Seringkali disebut sebagai silent treatment.

Contohnya:

  • Teman tiba-tiba menjauh dan diam
  • Tidak diajak dalam obrolan, tidak disapa atau tidak diikutsertakan dalam rapat

3. Ambiguous Rejection

Berbeda dengan ostracism yang diam tanpa penjelasan, ambiguous rejection justru ada komunikasi tapi pesannya membingungkan.

Misalnya:

  • Isi pesan tidak konsisten
  • Ucapan dan tindakan tidak sesuai
  • Bahasa tubuh bertolak belakang dengan kata-kata

Kenapa Penolakan Bisa Terjadi?

Tidak semua penolakan mengartikan bahwa kita buruk atau tidak layak. Kadang penolakan muncul karena adanya perbedaan values (nilai hidup), beliefs (keyakinan) atau personality (kepribadian). Artinya, tidak semua orang memang cocok satu sama lain dan itu adalah hal yang wajar dalam dinamika kehidupan sosial. Di sisi lain, pengalaman ditolak juga dapat menjadi sumber refleksi diri. Bukan untuk menyalahkan diri sendiri, melainkan untuk memahami diri. Apakah ada pola sikap, cara berkomunikasi, atau respons lainnya yang perlu dikembangkan. Jika proses evaluasi dilakukan secara sehat dan objektif, justru penolakan dapat membantu seseorang bertumbuh.

Kenapa Penolakan Sering Membuat Kita Insecure?

Manusia memiliki kebutuhan dasar untuk terhubung dan membangun hubungan yang stabil dengan orang lain, kita ingin memiliki hubungan yang positif dan konsisten serta stabil dan saling peduli. Ketika mengalami penolakan, kebutuhan untuk diterima dapat menjadi terganggu. Akibatnya, beberapa aspek psikologis kita ikut terdampak:

Rasa memiliki (belonging): merasa tidak diterima

Rasa kontrol: merasa kehilangan kendali

Makna hidup: merasa keberadaan diri tidak penting

Harga diri (self-esteem) → mulai merasa tidak berharga atau tidak dibutuhkan

Self-esteem sendiri adalah bagaimana kita menilai dan menghargai diri sendiri. Saat penolakan membuat kebutuhan love and belonging tidak terpenuhi, seseorang merasa tidak diterima atau tidak berharga, self esteem menurun dan muncul rasa insecure.

Cara Elegan Menghadapi Penolakan

1. Belajar Menerima.

Menerima bukan berarti membiarkan diri disakiti, menyetujui perlakuan buruk atau menyerah pada keadaan. Melainkan untuk melepaskan diri dari jeratan.

2. Sadari.

Saat ditolak, coba perhatikan: pikiran apa yang paling sering muncul?

3. Normalisasi Emosi yang Dirasakan

Normalisasi bahwa emosi atau perasaan yang dirasakan itu wajar, bahwa kita hanya manusia, dan hal-hal di luar dari diri kita itu tidak bisa kita kontrol. Tidak perlu melihat apakah konten pikiran atau emosi yang dirasakan itu positif atau negatif.

Namun, ketika pikiran dan perasaannya sudah kita sadari dan dinormalisasi, tapi kita masih terjerat sama pikiran kita, coba tanyakan ke diri kita. Kalau pikiran ini terus ada apa dampaknya bagi kita di kemudian hari atau dalam jangka panjang? Apakah ini membuatku berkembang atau justru semakin terjebak?

Misalnya, setelah ditolak seseorang, kita mulai menghindari semua hubungan karena takut terluka lagi. Pada akhirnya, rasa takut itu justru membatasi hidup kita sendiri.

4. Cari Inti Masalahnya

Apakah penolakannya adalah masalah utamanya? Jika bukan, apa masalah utama yang membuat tidak nyaman atau membuat insecure? apakah penilaian negatifnya? apakah situasinya? individunya? apakah emosinya? Kalau sudah mendapatkan inti masalahnya. Apakah bisa diperbaiki dan itu adalah hal yang bisa membuat kita bertumbuh? jika iya maka, lakukan langkah baik dan sehat yang bisa dilakukan. Namun jika tidak, ingat bahwa tidak semua penolakan itu buruk, justru bisa menjadi jalan untuk kita semakin bertumbuh.

Seperti kata Haemin Sunim:

“Don’t be discouraged by rejection: An even better path may lie ahead. What may seem like a setback often turns out to be a blessing in disguise.”

“Jangan berkecil hati karena penolakan: Jalan yang lebih baik mungkin terbentang di depan. Apa yang tampak seperti kemunduran seringkali ternyata menjadi berkah tersembunyi.”


Artikel ini disusun berdasarkan webinar Selaras Bertumbuh berjudul Rejection Hurts, But You’ll Heal: Cara Elegan Menghadapi Penolakan dan Bangkit Tanpa Insecurities yang dibawakan oleh Tiara Prima Setiani, M.Psi., Psikolog


SUMBER REFERENSI:

Freedman, Williams, & Beer (2016). Softening the Blow of Social Exclusion: The Responsive Theory of Social Exclusion. Frontiers in Psychology, 7, Article 1570. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2016.01570 

Mark R. Leary. (2010). Affiliation, acceptance, and belonging: The pursuit of interpersonal connection. Dalam Handbook of Social Psychology. John Wiley & Sons.

Wango, G. M. (2022, January–March). Rejection: What happens and why rejection hurts so deeply and what to do about it. Counsel-ing, 25–30. Kenya Institute of Professional Counselling.